Sabtu, 05 September 2026

Self improvement

 Sejak buku2 mulai dibaca dengan kesadaran, bukan sekadar dengan mata, perlahan terjadi rekonstruksi dalam cara memandang diri. Setiap halaman menjadi ruang refleksi, memperluas cara memahami hidup, menumbuhkan keberanian, sekaligus mengajarkan bahwa penerimaan diri adalah bentuk kedewasaan yang paling personal.

Dulu, bahkan memperlihatkan wajah sendiri terasa begitu menakutkan. Terlalu banyak penilaian yang diciptakan oleh pikiran sendiri, hingga lupa bahwa nilai diri tidak pernah seharusnya bergantung pada pandangan orang lain.

Kini, seribu kekurangan tidak lagi terasa sebagai sesuatu yang harus disembunyikan. Ada ketenangan ketika akhirnya mampu berdamai dengan diri sendiri. Mungkin, bertumbuh memang bukan tentang menjadi sempurna, tetapi tentang mencapai kesadaran bahwa diri ini tetap layak dicintai, bahkan sebelum menjadi versi terbaiknya.

Terima kasih kepada buku2 yg telah memperkaya perspektif, memperluas kesadaran, dan diam2 membentuk perjalanan ini.... 

Dan kepada seseorang yg senantiasa memilih untuk tetap hadir hingga sejauh ini, terima kasih. Kehadiranmuu menjadi bagian kecil yang memberi arti pada perjalanan yang begitu personal.



Minggu, 19 Juli 2026

Horizon Kemungkinan

Bagi sebagian orang, mendaki gunung hanyalah satu di antara sekian banyak perjalanan. Namun, bagi seseorang yang cukup lama hidup dalam negosiasi dengan tubuhnya sendiri, ia pernah menjadi kemungkinan yang nyaris tidak memiliki tempat di masa depan.

Pernah terucap, "mendaki gunung adalah wishlist sebelum meninggal". Bukan karena pesimisme, melainkan karena ada fase ketika menerima keterbatasan terasa lebih masuk akal daripada memelihara impian. Tubuh, pada masa itu, seolah memiliki otoritas untuk menentukan sejauh mana harapan boleh bertahan.

Maka, ketika kaki akhirnya benar2 menapaki lereng, yang hadir bukan perasaan berhasil mencapai puncak, melainkan kesadaran bahwa tidak semua harapan ditakdirkan gugur. Sebagiannya hanya menunggu waktu yg tepat untuk berwujud.

Dan barangkali, setiap anugraha memang selalu menemukan perantaranya

Sabtu, 11 Juli 2026

PORSI

Tidak semua yang perlahan menghilang diawali oleh perpisahan.

Sebagian justru lahir dari kebiasaan2 kecil, ketika kehadiran selalu diasumsikan akan mengerti, sementara antusiasme lebih dahulu berlabuh ke tempat lain. Yang memudar bukan rasa memiliki, melainkan keyakinan bahwa keberadaan masih benar-benar diperhitungkan.

Barangkali, yang paling menguras bukanlah penantian,melainkan upaya yg tak pernah selesai untuk menenangkan hati, meyakinkannya bahwa setiap orang memiliki porsinya sendiri, meski berkali2 mendapati diri berada setelah banyak hal.

Bukan soal menjadi yang paling utama.

Hidup memang tidak pernah meminta seseorang memusatkan semestanya pada satu nama.

Namun ada batas yang nyaris tak kasatmata antara dipahami dan dibiasakan untuk selalu memahami. Yang satu menumbuhkan rasa aman, sedangkan yang lain perlahan menjadikan pengertian sebagai kewajiban yang tak pernah diminta.

Barangkali, itulah ironi yang paling sunyi.

Sebab perhatian tidak diukur dari seberapa fasih kata sayang diucapkan, melainkan dari arah langkah pertama ketika waktu harus dibagi, ketika pilihan2 kecil diam2 menentukan arti sebuah keberadaan.

Pada akhirnya, yang paling sunyi bukanlah jarak,melainkan ketika sebuah hubungan tetap memiliki nama, tetapi perlahan kehilangan makna yang membuatnya layak disebut rumah.

Dan yang paling menyakitkan bukan ketika seseorang memilih pergi.

Melainkan ketika ia tetap tinggal, tetap mencintai, tetap mendoakan... namun diam2 mulai terbiasa hidup tanpa berharap banyak.

Sebab cinta tidak selalu meminta untuk didahulukan. Hanya jangan dibiasakan menjadi yang selalu belakangan. Sebab yang terus diminta mengerti, suatu hari bisa saja tetap memilih bertahan namun tak lagi merasakan hangatnya menjadi bagian yang benar2 dipertimbangkan.


Sabtu, 13 Juni 2026

Orang Baik di Kota Asing

Kalau aku tidak tersesat di Solo malam itu,, mungkin aku tidak akan pernah menemukan sosok kakak perempuan yang selama ini hanya hadir sebagai harapan.

Saat mencari penginapan di sekitar UNS, aku berkeliling sendirian dari satu kos ke kos lain tanpa hasil. Baterai ponsel hampir habis, dan untuk sesaat aku hanya bisa duduk di sebuah coffee shop menangis sambil mengisi daya dan menenangkan diri. Sebagai orang yg berada sendirian di kota asing pada tengah malam, itu menjadi salah satu pengalaman survive mode yang cukup berkesan dalam hidupku.

Di tengah kebingungan itu, aku bertemu Mbak Nia, seorang mahasiswi S2 bidang seni, yg entah mengapa mempercayaiku begitu saja. Ia mengajakku ke kosnya dan membantuku melewati malam yang panjang itu. Mungkin karena sama2 menyukai seni, percakapan kami mengalir begitu saja. Selama beberapa hari, aku merasakan perhatian yang sederhana, sesuatu yang membuatku memahami bagaimana rasanya memiliki seorang kakak perempuan.

Yang paling kuingat bukan hanya kebaikannya, melainkan cara ia hadir sebagai sosok yg mengayomi. Ia memanggilku "adek", mendengarkan ceritaku, dan sering memberikan sudut pandang yg lebih tenang ketika aku menghadapi persoalan.

Bertahun2 telah berlalu. Kini Mbak Nia telah menjadi seorang dosen, tetapi hubungan kami tetap terjaga. Sampai hari ini, ia masih menjadi salah satu orang yg kerap memberiku arahan ketika aku membutuhkannya.

Dari peristiwa itu aku belajar bahwa tidak semua pertemuan penting lahir dari rencana. Kadang, hidup mempertemukan kita dengan orang2 baik justru ketika kita sedang kehilangan arah.

Sabtu, 23 Mei 2026

Persimpangan Dilema

Ketika mencari jalan sendiri seringkali hilang arah,

Seperti berjalan dihutan tanpa senter,

Seringkali mencoba kemungkinan yang mungkin 90% gagal,

ragu,bingung,merasa kurang lagi dan lagi

TERBENTUR,TERBENTUR,TERBENTUR, entah kapan TERBENTUK


"kak  tolong arahin aku,aku gabisa,aku bingung,aku dilema,ini gimana dan kemana"  - ungkapku kalau  punya kakak



Kamis, 07 Mei 2026

Tubuh yang Hampir Pulang

 Ada malam ketika tubuh tak lagi terasa seperti tempat pulang yang utuh. Napas berat, lelah datang berlebihan, dan kantuk tak lagi menghadirkan istirahat. Mata terpejam, tetapi tubuh seolah dipaksa berlari menembus lorong panjang tanpa ujung. Selama ini, segala nyeri dipelihara dalam sunyi, setelah terlalu banyak kemungkinan dan penjelasan yang saling membatalkan hingga sakit akhirnya menjelma rahasia yang dibawa sendirian.

Hingga malam itu tiba.

Hujan turun deras, mengguyur jalanan dan langit yang tampak muram sejak petang. Dalam tubuh yg mulai kehilangan tenaga, sebuah perjalanan menuju rumah sakit terasa seperti menempuh jarak yang begitu jauh dari kehidupan sebelumnya. Namun semesta rupanya belum benar2 berniat membiarkan semuanya runtuh sendirian.

Ada langkah2 yang memilih tinggal.

Seseorang mengikuti perjalanan malam itu tanpa diminta, seolah memahami bahwa ada ketakutan yang terlalu besar jika harus dihadapi seorang diri. Dua lainnya datang membantu menopang tubuh yang nyaris kehilangan daya. Di tengah hujan dan lampu jalan yang berpendar samar, mereka menjadi tangan2 yang menolak membiarkan seseorang tenggelam dalam keadaan paling rapuhnya.

Dan di ruang rumah sakit yang dingin itu, ketika air mata jatuh tanpa mampu dicegah, sebuah usapan lembut hadir di wajah yang penuh cemas. Sederhana, nyaris tak berarti bagi sebagian orang, tetapi malam itu terasa seperti pengingat bahwa dunia belum sepenuhnya kehilangan kasihnya.

Ada rasa haru yang sulit dijelaskan.
Bukan semata karena pertolongan yang datang, melainkan karena untuk pertama kalinya, luka yang selama ini disembunyikan diam2 dipeluk oleh banyak kepedulian.

Sebagian memilih menetap lebih lama di rumah sakit, menjaga malam agar tidak terasa terlalu sunyi. Sebagian lain datang membawa keperluan2 kecil yang justru terasa paling besar nilainya. Bahkan ada yang membantu menjelaskan keadaan kepada dosen, lalu datang menjenguk bersama orang yang dicintainya. Kebaikan2 itu hadir tanpa suara, tetapi menetap begitu lama di dalam ingatan.

Kemudian penjelasan dokter datang seperti petir yang membelah langit gelap. Selama ini ada hal yang ternyata keliru dipahami. Penyakit itu bukan sesuatu yang menular, melainkan sesuatu yang diam-diam dapat menyebar dan menghancurkan dari dalam apabila terlambat ditangani. Bahkan kemungkinan terburuknya mampu mencapai kepala, merenggut kesadaran, lalu perlahan mengambil hidup dengan cara yang nyaris tak disadari.

Mungkin sejak malam itu, hidup tak lagi dipandang dengan cara yang sama.

Sebab di kota yang awalnya hanya terasa seperti tempat singgah, ternyata Tuhan menitipkan begitu banyak manusia baik. Orang2 yang hadir bukan untuk menghapus sakit, melainkan memastikan bahwa seseorang tidak menghadapi sakitnya sendirian.

Senin, 06 April 2026

belum lengkap

 Pagi itu, langkahku berakhir di Lapangan Kasihan, tempat di mana hari mulai bergerak dalam sunyi yang nyaris reflektif tanpa banyak tanya. Anak2 berlarian, tawa mereka ringan, seolah dunia tidak pernah benar2 kekurangan alasan sederhana untuk bahagia.

Aku duduk di satu sisi, dengan nasi cokot yang perlahan habis tanpa terasa, seperti waktu yang berjalan tanpa negosiasi. Pikiranku tidak ke mana2. Ia diam, tapi bukan tenang, lebih seperti ruang yang sengaja dibiarkan kosong.

Di usia yang katanya penuh kemungkinan ini, aku justru belajar menahan diri untuk tidak terlalu jauh membayangkan. Ada sesuatu yang kadang ingin kuraih, tidak jelas bentuknya, tidak juga selalu hadir, tapi cukup untuk menyisakan kesadaran bahwa ada bagian dari diriku yang belum lengkap.

Dan anehnya, setiap kali perasaan itu muncul, selalu ada yang lebih dulu menarikku mundur. Sebuah bisikan pelan, hampir tak terdengar, yang membuatku berpikir dua kali bahkan sebelum benar2 melangkah.

Akhirnya, aku kembali pada ritme yang monoton. Pergi sendiri, pulang sendiri, menjalani hari2 tanpa banyak perubahan. Bukan karena tidak ingin berbeda, mungkin hanya karena belum berani membayangkan seperti apa rasanya jika tidak sendiri.

Di sekelilingku, orang2 tampak berjalan dengan sesuatu di samping mereka, entah itu tangan yang digenggam, atau sekadar kehadiran yang saling mengerti. Aku melihatnya, cukup lama, lalu mengalihkan pandangan perlahan.

Bukan karena tidak ingin, hanya… belum tahu harus menempatkan diri di mana, dalam kemungkinan yang terasa begitu jauh.

Sabtu, 21 Maret 2026

Sembilan Purnama

 Pada hari ketika gema takbir memenuhi ruang2 yg tak kasatmata, aku bertanya dalam diam pada sesuatu yang tak pernah benar2 memberi kepastian. Masih adakah kemungkinan bagiku untuk bernapas utuh, seperti mereka yg tidak perlu merundingkan setiap tarikan napasnya?

Keletihan ini telah melampaui makna sederhana.....

ia menjadi pengalaman, memperpanjang jarak antara harapan dan apa yg disebut pemulihan. Sembilan purnama bukan lagi sekadar hitungan, melainkan rentang yg terlalu panjang untuk dijalani tanpa mempertanyakan arti bertahan itu sendiri.

Aku kerap mempertanyakan, apakah masa depan benar2 bersifat inklusif, atau hanya menjadi privilege bagi mereka yg tidak harus bernegosiasi dengan keterbatasan dan ketidakpastian setiap hari.

Hari2 berjalan, namun kehilangan signifikansinya.

Di tengah perayaan yg menandai kemenangan, aku justru berada dalam proses lain. berdamai dengan sesuatu yg tak pernah kupilih. Sebuah kesunyian yang tidak mengakhiri, namun perlahan mengikis, dan memaksaku tetap bertahan di dalamnya.

Kamis, 05 Maret 2026

Cerita Ceria

Ada suatu titik dimana aku sempat meyakinkan diriku bahwa waktu akan menyapu semuanya seperti ombak yg perlahan merapikan jejak di pasir. Namun ada hal2 yg rupanya tidak tunduk pada cara kerja waktu. Ia tetap tinggal, diam, dan berdenyut pelan di ruang yang tidak selalu bisa dijelaskan dengan kata. Maka aku memilih cara yang paling mungkin yaitu menyalakan sedikit terang di wajahku sendiri, seolah dunia memang seharusnya disambut dengan tawa.

Peristiwa itu datang terlalu cepat, hampir seperti adegan yg dipercepat dalam sebuah kisah yang belum sempat dipahami. Kadang aku menertawakannya bukan karena ia benar2 lucu, melainkan karena hanya dengan cara itulah semuanya terasa sedikit lebih ringan untuk dipanggul.

Di sepanjang perjalanan yang tidk pernah aku rencanakan ini, ada banyak tangan yang diam2 menahan bahuku agar tidak terlalu condong ke arah gelap. Dan di antara sekian banyak wajah, ada satu kehadiran yg entah bagaimana menjadi penanda kecil bagi keberanian yang hampir padam. Ia mungkin tidak pernah tahu bahwa keberadaannya pernah menjadi alasan mengapa aku memilih tetap berjalan.

Aku tidak pernah benar2 tahu bagaimana ia memaknai hal itu. Mungkin hanya persinggahan yang sebentar, mungkin juga tidak lebih dari kebetulan yang lewat tanpa jejak. Tetapi bagiku, beberapa kebetulan memiliki cara aneh untuk terasa seperti takdir yang singkat namun cukup berarti untuk dikenang.

Aku pun tidak menempatkan diriku sebagai seseorang yang utuh tanpa celah. Hidup 21 tahun mengajarkan bahwa setiap orang membawa bagian rapuhnya masing2. Ada yang tampak, ada pula yang hanya diketahui oleh mereka yang benar2 melihat lebih dekat.

Kini aku sedang berjalan melewati satu bagian dari "cerita" yang tidak pernah aku tulis sebelumnya. Sebuah bab yang berat, tetapi tetap harus dibaca sampai selesai. Anehnya, justru di sana aku menemukan sesuatu yang lebih sunyi namun juga lebih jujur, yaitu keyakinan bahwa langkah yg pelan sekalipun tetaplah langkah.

Dan barangkali, pada akhirnya, keberanian bukanlah tentang tidak merasa takut. Melainkan tentang tetap memilih berjalan, meskipun kita tau jalan itu tidak selalu ramah.

Kamis, 29 Januari 2026

Tentang ikan disana

Di balik kaca, ikan2 itu berenang tanpa tergesa.

Ruang mereka sempit, airnya tidak selalu jernih,
namun tak satu pun menabrak dinding dengan amarah.

Mereka tahu, panik hanya membuat air keruh.

Aku belajar dari sana.... 
masalah adalah batas, bukan musuh.
Sabar bukan berhenti,
melainkan bergerak pelan tanpa kehilangan arah.

Tidak semua luka perlu dilawan hari ini.
Ada yang cukup dijalani,
sampai waktunya air kembali tenang.

Selasa, 23 Desember 2025

Redam


    Emosi sering kali memilih bersembunyi. Ia hadir dan mungkin disampaikan, namun kerap berhenti di batas kehati hatian. takut jika kejujuran justru melukai sekitar. Dari sana, mengalah pelan2 menjadi kebiasaan, hingga keberadaan terasa kian ringan , mudah terlewat, seakan perannya hanya untuk memahami dan menenangkan, bukan untuk benar2 diperhitungkan.

    Di ruang yang sunyi, kalimat2 itu datang sendiri  "sesekali marahlah, jangan selalu diam, jangan membiarkan air mata dan goresan menjadi satu2nya bahasa" . Tak banyak yang tumbuh jika perhatian terus diarahkan keluar, sementara bagian paling rapuh dibiarkan luruh tanpa suara. Namun semua itu masih menetap sebagai getar halus, berputar di kepala, belum turun menjadi gerak, belum cukup berani menjelma sebagai sikap.

Jumat, 28 November 2025

Terimakasih Malioboro

Pernah, pada suatu fase eksistensial yg kabur batasnya, engkau menjelma semacam ruang persinggahan di antara runtuh dan bangkit, di mana kesadaran manusia seringkali terombang ambing tanpa struktur yang pasti. Pada masa ketika orientasi batin mengalami dislokasi, engkau menjadi semacam titik koordinat yang tetap, menghadirkan jeda dari hiruk pikuk yang sulit dipetakan.

Hampir setiap senja yang mengendap menjadi malam, ketika duka merembes tanpa aba2, langkah2 yang rapuh itu kembali ke pangkuanmu. Seakan setiap lampu yang berkelip di sepanjang tubuhmu merupakan metafora kecil tentang resiliensi,harapan yang tetap menyala kendati angin yg berulang kali mencoba meniadakannya.

Engkau menyimpan arsip2 tangis yang jatuh tanpa suara, bahkan ketika individu itu berdiri sendirian di tengah arus manusia yang sliweran,, wajah2 asing yang berlalu lalang bagai variabel2 acak dalam model kehidupan yang tak pernah tuntas dihitung. Di antara lalu lalang itulah, kesunyian justru menemukan definisinya yang paling telanjang.

Ada malam2 ketika langkah yang mengitari tubuhmu bukan sekadar ritual melintas, melainkan upaya rekonsiliasi dengan fragmen2 diri yang tercerai berai oleh tekanan sehari2. Pada titik itu, engkau bukan lagi sekadar jalan, engkau menjadi narasi, dan seseorang menjadi pembacanya.

Kini, sosok yang dulu datang dengan kesedihan yang menumpuk telah bertransformasi, tidak lagi tenggelam dalam pusaran emosional yang sama. Luka2 yang dulu berserakan telah memperoleh tata letak baru, tidak sembuh, namun memahami hakikat keberadaannya.

Dan meskipun kunjungan ke tubuhmu tak sesering dulu, keistimewaanmu tetap bertahan sebagai memori,,sebuah jejak pengalaman yang enggan menguap, seakan engkau adalah paragraf yang sekali dibaca tidak pernah benar2 selesai dipahami.

Senin, 25 Agustus 2025

titik

Ada kalanya tubuh berbicara

dengan bahasa yang tak dimengerti akal,

isyarat samar,

seperti tinta merah yang menetes di antara napas.


Aku belajar,

bahwa manusia bukan hanya pikiran dan cita,

tetapi juga rapuhnya raga yang bekerja diam2,

yang menuntut perhatian

sekalipun jiwa ingin terus berlari.

Sabtu, 12 Juli 2025

Sumpel Kain dan Waktu yang Berjalan

Di ruang sederhana, sepasang sepatu beristirahat sejenak di atas lantai dingin. Warnanya telah memudar, bagian solnya mulai terkikis, dan goresa2 kecil kini menjadi lukisan waktu di permukaannya. Ia bukan sepatu biasa. Ia adalah penanda waktu, penjelajah jarak, dan saksi dari perjalanan seorang manusia yg perlahan tumbuh,bukan hanya dalam ukuran kaki, tapi juga dalam keteguhan hati.

Sembilan tahun lalu, sepatu itu dibeli dengan sisa2 uang jajan. Tak ada pesta kecil menyambutnya, hanya tekad yang besar dari seseorang yg memilih menahan lapar demi sepasang langkah yang lebih layak. Waktu itu, ukurannya terlalu besar. Bagian tumit harus disumpal kain agar tak terlepas di tengah jalan. Dan saat digunakan untuk lomba, tawa datang bukan dari kemenangan, tapi dari ukuran sepatu yang dianggap terlalu besar,aneh, terlalu asing.

Hanya harapan sederhana "semoga sepatu ini kuat bertahan, hingga kaki ini layak mengisinya". Dan sepatu itu pun bertahan. Dalam langkah yang goyah, dalam hari2 yang tak selalu menang, ia tetap menemani. Ia menjadi teman bagi kegagalan,bukan untuk mengingat luka, tapi untuk mengajarkan makna pulang, sabar, dan mulai lagi.

Waktu berjalan. Tahun berganti. Yang dulu disumpal kini pas, yang dulu dicemooh kini tak lagi peduli. Kini, sepatu itu telah lecet di banyak sisi. Bagian depannya mengelupas, solnya mulai retak, dan warnanya kehilangan kilau. Tapi tak sedikit pun niat untuk menggantinya muncul. Karena bukan keindahannya yang membuat ia dikenakan, tapi makna yang dibawanya.

Sepatu itu tidak pernah dijanjikan untuk menjadi indah. Ia hanya diminta bertahan. Dan ia menepatinya.

Kini, ia masih setia dikenakan,bukan karena tak ada pilihan lain, tapi karena ada rasa syukur yang tumbuh setiap kali tali sepatunya dikencangkan. Syukur atas perjalanan yang pernah sulit, namun tidak pernah sia2. Syukur atas kegagalan yang membentuk keberanian. Syukur atas benda sederhana, yang tak pernah mengeluh, tak pernah meminta, hanya menemani dengan setia.

Dan mungkin ketika suatu hari seseorang bertanya,
“Kenapa tak mengganti sepatu itu?”
Jawaban yang tak perlu dijelaskan panjang adalah:
“Karena yang telah berjalan bersamamu dalam luka, layak menemani langkah menuju sembuh.”

Minggu, 22 Juni 2025

Rumput hijau dikasihan

Di tengah lapangan sunyi, ia duduk dikelilingi warna hijau yang menenangkan ,warna yang diam2 selalu jadi tempat pulang bagi pikirannya yang kusut.

Malam di Kasihan terasa lengang. Angin berbisik pelan, dan ia hanya menatap kosong ke langit tanpa bintang. Dalam sepi itu, kesendirian menjelma jadi ruang yang jujur, tempat ia bisa diam tanpa harus berpura2 baik2 saja.

"Mengapa dunia begitu tergesa, sementara aku masih tertatih mengejarnya?" batinnya lirih. Ia terlalu sering memikul beban yang bahkan bukan miliknya, hanya karena merasa harus kuat.

Lalu saat semuanya tak tertahan, ia menangis bukan karena lemah, tapi karena itulah satu-satunya bahasa yang bisa dimengerti oleh jiwanya sendiri.


Kamis, 12 Juni 2025

Musim transisi

Aku bahagia tinggal di Yogyakarta, kota yang hangatnya tak hanya berasal dari matahari, tapi dari manusia2 yang tinggal di dalamnya. Di tengah jalanan yang selalu sibuk dan malam-malam yang tak pernah benar-benar sepi, aku dipertemukan dengan mereka, dua dari Lampung, satu dari Bengkulu, dan aku sendiri, dari Brebes.

Awalnya kupikir aku hanya akan menjadi penonton dalam dunia yang terlalu ramah ini. Tapi lambat laun, mereka menyambutku bukan sebagai tamu, melainkan sebagai bagian dari rumah itu sendiri. Kami tumbuh bersama dalam percakapan ringan, tawa yang tak dibuat2, dan keheningan yang tak canggung. Tidak ada yang bisa sepenuhnya mewakili rasa syukurku atas pertemuan ini,ia terlalu dalam untuk dijelaskan, terlalu utuh untuk sekadar kata.

Namun begini, kehidupan tak pernah hadir tanpa catatan kaki. Di balik lembar2 hangat yang kami tulis bersama, ada satu paragraf yang sengaja kusimpan dalam kurung. Bukan karena aku ingin menyembunyikan, tapi karena tidak semua luka perlu diumbar untuk bisa dimengerti. Ada semacam kabut yang menetap di sudut2 ragaku, kabut yg tak berwarna namun kadang terasa berat. Ia tidak menyakitkan, tapi cukup membuatku berhenti sejenak ketika yang lain masih ingin berlari.

Aku menyebutnya musim transisi.....fase di mana aku tak tahu akan menetap sampai kapan, tapi juga belum siap untuk benar2 pamit. Barangkali, nanti akan tiba waktunya aku harus menepi lebih awal, bukan karena aku kalah, tapi karena tubuhku menyimpan peta yang berbeda. Tapi untuk saat ini, biarkan aku tetap di sini, menulis cerita, tertawa, dan hidup, seolah hari esok selalu bersedia menunggu.

Dan untuk semua itu, aku tak bisa berkata lain, aku bersyukur pernah dipertemukan dengan mereka.(emot bunga besar xixixiixi)

Rabu, 04 Juni 2025

Bukan Kapasitasku

Terdampar pada keadaan yang bukan dalam kapasitas diri, wilayah asing yang menuntut pemahaman yang belum dimiliki, keputusan yang tak pernah dipelajari cara membuatnya, dan kekuatan yang terasa begitu jauh dari genggaman.

Di tengah pusaran itu, hanya ada diam... diam yang menggema di dalam. Sebab yg bisa dilakukan hanyalah bertahan dalam sunyi. Ini bukan tempat yang dikenal, bukan ruang yang pernah diajarkan cara bernapas di dalamnya. Namun, di sanalah segalanya terjadi seolah semesta sengaja menguji batas dari diri yang bahkan belum sempat utuh.

Haruskah tetap melangkah, meski setiap tapak terasa goyah? Haruskah nyala semangat terus dipertahankan, walau hampir padam dan dingin?

Hidup dilalui tak seperti meniti anak tangga satu per satu, melainkan dilompati tiga hingga empat sekaligus. Bukan karena mampu, tetapi karena keadaan tak memberi pilihan lain. Dalam setiap lompatan, selalu ada yang tertinggal,keyakinan, kepercayaan, dan ketenangan yang perlahan mengikis.

Situasi ini rumit... berat... dan menjadikan diriku begitu kecil di dalamnya. Ada sesak yang tak bisa dijelaskan, hanya mampu dirasa, layaknya hujan yang turun tanpa aba2, membasahi tanah rapuh yang bahkan belum siap menyambut basahnya.

Mungkin inilah rupa ketidakberdayaan,bukan karena enggan berjuang, melainkan terlalu sering dipaksa berdiri di medan yang tak dikenal, dengan beban harapan yang tak pernah diajarkan cara memikulnya.


Minggu, 01 Juni 2025

Aku Masih dalam Perjalanan

Aku masih berada di fase meraba2 diriku sendiri mencoba mengerti, menerima, dan membentuk ulang yang selama ini retak dalam diam. Rasanya belum pantas untuk melangkah ke ruang siapa pun, ketika aku sendiri belum benar2 mengenal arah langkahku.

Bukan berarti aku menolak kehadiran, hanya saja… dalam keadaanku sekarang, aku belum siap memikul ekspektasi. Masih terlalu banyak hal yang perlu aku benahi,bukan untuk menjadi sempurna, tapi agar tak lagi merasa kecil saat berdiri di hadapan dunia.

Ada kegelisahan yang tak bisa kutunjukkan terang2ngan. perasaan tak cukup, tak layak, dan takut mengecewakan. Insecure, mungkin begitu orang menyebutnya, tapi bagiku ini lebih seperti berjalan di kabut aku tak tahu pasti di mana ujungnya, tapi aku tahu aku sedang menuju ke sana.

Jadi, jika kau ingin menemaniku, temani dari jauh yang tak menekan. Jangan terlalu sering mengajakku masuk ke duniamu dulu bukan karena aku tak ingin, tapi karena aku takut… takut menjadi beban yang tak kau sangka-sangka. Biarkan aku menyiapkan diriku. Biarkan aku membentuk versi yang utuh dari diriku sendiri.


Minggu, 11 Mei 2025

Ruang yang Tak Pernah Tenang

Tidakkah di dunia yang riuh ini tersisa sedikit saja ruang untuk ketenangan? Tempat di mana jiwa bisa bernapas legga tanpa dihantui rasa cemas yg tak berkesudahan?

Kedamaian yang dulu begitu sederhana kini terasa mewah. Terlalu sering deretan nomor tak dikenal menerobos masuk ke layar ponselku, menyisakan detak jantung yang tak karuan. Aku teringat saat pernah ditipu, pernah pula hampir dijebak dalam pusaran niat jahat yang tak kukenal asal usulnya. Semua itu menjelma menjadi ancaman yang menari2 di pelupuk mata, terlalu dekat, dan terlalu nyata.

Aku trauma. Aku takut. Takut… dan takut lagi. Ketakutan yg bukan sekadar kata, melainkan perasaan yang menjalar perlahan, merayap ke dalam pikiran, memeluk tubuhku dengan dingin yang tak bisa dijelaskan. Seakan2 semesta berkonspirasi menyuguhkan peristiwa demi peristiwa aneh, menggantungkan awan gelap di atas kepalaku, siap mencurahkan badai kapan saja.

Dan di tengah segala kejanggalan ini, sering kali aku termenung sendirian, menatap kosong ke langit-langit malam. Lalu muncul pertanyaan yang tak kunjung pergi. " Salahku apa? Apakah aku punya kesalahan besar kepada seseorang, yang mungkin tak pernah kusadari? Apakah ada luka yang tanpa sengaja kutorehkan hingga kini berbalas dengan cara seperti ini?"  Aku sungguh ingin tahu... agar jika bisa ditebus, akan kutebus.

Siapapun mereka, entah para pelaku, entah dalang yg menarik benang di balik layar, mereka telah melintasi batas2 etika dan rasa kemanusiaan. Ini bukan lagi sekadar gangguan. Ini perampasan hak atas rasa aman. Dan aku… aku benar2 merasa tidak nyaman, seolah berada di panggung sandiwara yang tak pernah kupilih untuk perankan.

Rabu, 07 Mei 2025

Bayang Diujung Ingatan

Dalam kehidupan yg tampaknya biasa2 saja, kadang kita tak menyadari bahwa jiwa kita menyimpan sisi lain gelap, liar, dan penuh risiko. Aku dan keempat sahabatku adalah sejenis penjelajah, bukan pengembara rimba atau pencinta ketinggian, melainkan perambah kebenaran yang tersembunyi di balik dinding2 kekuasaan yang retak. Kami menyusup, mengendus, dan menggali rahasia2 yang tak ingin disingkap siapa pun. Kami adalah mata mata, ditugaskan secara diam2 oleh seorang atasan yang bahkan identitasnya pun diselubungi kabut.

Kami berlima masih mahasiswa. Namun bagi sebagian orang, kami sudah dianggap musuh dalam selimut. Mahasiswa pemberontak, begitu mereka menyebut kami karena kami tak ragu untuk menyuarakan ketidakadilan, meski harus berhadapan dengan bahaya. Salah satu dari kami adalah (adiku) saudara kembarku. Ia pantulan wajah dan jiwaku selalu berada di sisiku dalam misi apa pun.


Hari itu, kami mendapat tugas yang berbeda. Sebuah rumah megah tersembunyi di tengah belantara hutan menjadi tujuan kami. Informasi yang kami terima menyebutkan bahwa rumah itu milik seorang tokoh penting, yang terlibat dalam korupsi sistemik yang menjalar seperti akar pohon tua diam, kuat, dan mencengkeram.

Misi ini bukan main2. Risiko kehilangan nyawa terlalu nyata. Namun bagi kami, kematian bukan hal yang menakutkan. Justru tantangan yang terlalu menggoda untuk dilewatkan. Dengan pakaian seperti pendaki, kami berangkat.Namun di tengah perjalanan, sesuatu terjadi. Adikku menerima panggilan telepon dari nomor tak dikenal. Ia menjawab dengan nada curiga, tapi berubah cerah seketika.


"Aku lolos beasiswa. Dapat panggilan wawancara langsung," ucapnya. Matanya bersinar, suaranya sedikit bergetar.

"Aku nggak bisa lanjut. Aku pulang dulu ya."


Aku tak sanggup mengucapkan apa pun. Hanya menatap punggungnya yang menjauh, langkahnya yang pasti meninggalkan kami. Ada kebanggaan yang mendesak di dada,tapi juga kehampaan yang tak bisa dijelaskan.

Kami berempat melanjutkan misi. Sesampainya di tengah hutan, berdirilah rumah besar yang mewah dan mencekam. Kami mendekat. Beberapa pria menyambut dengan senyum ramah dan secangkir teh. Tatapan mereka menyapu tubuh kami, seakan mencoba menelanjangi niat kami dari gerak gerik yang tak sempurna kami sembunyikan.

Ketika malam menebal dan udara menjadi lebih sunyi, kami menyelinap ke dalam. menyusuri lorong sempit dan akhirnya menemukan sebuah pintu kayu di balik dapur. Di baliknya, sebuah tangga menurun ke ruang bawah tanah yang remang dan dingin. Di situlah rahasia disimpan, dokumen, rekaman, dan jejak2 transaksi yang mampu mengguncang bangunan hukum negeri ini. Namun kami terlalu lama di sana. Alarm tak terdengar, tapi kehadiran kami sudah terendus. Suara langkah tergesa memecah keheningan. Kami terpisah. Dalam kekacauan, aku tertangkap. Seorang pria menjambakku dan menghunus golok. Ujungnya dingin menyentuh leherku.


“Aku tahu wajahmu,” bisiknya, lirih namun penuh ancaman. “Kau tak akan hidup lama lagi.”


Aku meronta, menendang, melawan. Dengan keberuntungan yang nyaris mustahil, aku berhasil kabur dan masuk ke hutan. Hujan turun, menambah beban pada tubuh yang sudah lebam. Tak ada sinyal. Tak ada arah. Hanya malam dan napas yang tercekat.

Esoknya, aku sampai di rumah. Tubuh remuk, pikiran kusut. Tapi yang kutemukan jauh lebih buruk dari mimpi terkelam.


Adikku. Ia... disiksa.


Di depan rumah, tubuhnya dikerumuni orang2 berbaju hitam. Dihajar, diinjak, dibantai. Sampai tak lagi menyerupai manusia. Mereka menyangka itu aku. Mereka keliru. Dan dalam kekeliruan itu, mereka telah mengambil nyawa yang paling berarti bagiku. Salah satu dari mereka menatapku dari kejauhan. Ia ragu. Ingin mengejar, tapi tak bergerak. Mungkin karena jasad yang terbujur itu telah cukup untuk membuatnya gentar.

Aku berlari masuk. Bersembunyi di kolong kasur, seperti anak kecil yang takut pada petir. Suara tangis keluargaku menembus lantai. 


Dunia tiba-tiba memudar. Segalanya menjadi kabur, dan layar seakan menghitam.

Aku terbangun dengan peluh dingin dan dada yang sesak. Masih di kamarku. Masih dengan selimut yang kusut dan udara malam yang lengang. Di sebelahku, terbuka sebuah e-book di layar laptop "Laut Bercerita".

Aku menghela napas. Mimpi itu... mimpi yang terlalu hidup. Meskipun alurnya berbeda jauh dari buku yang baru saja kubaca, tapi pembantaian, penyiksaan, dan ketegangan yang tersisa di dada membuat jantungku hampir copot. Imajinasi bercampur dengan emosi. Mungkin itu sebabnya mimpi ini terbentuk.

Aku duduk perlahan, menatap gelas air di meja dan meneguknya dalam satu tarikan panjang.

Di luar, dunia masih tenang. Tapi di dalam, pikiranku sebaliknya.



Tamat.

Self improvement

 Sejak buku2 mulai dibaca dengan kesadaran, bukan sekadar dengan mata, perlahan terjadi rekonstruksi dalam cara memandang diri. Setiap halam...