Senin, 06 April 2026

belum lengkap

 Pagi itu, langkahku berakhir di Lapangan Kasihan, tempat di mana hari mulai bergerak dalam sunyi yang nyaris reflektif tanpa banyak tanya. Anak2 berlarian, tawa mereka ringan, seolah dunia tidak pernah benar2 kekurangan alasan sederhana untuk bahagia.

Aku duduk di satu sisi, dengan nasi cokot yang perlahan habis tanpa terasa, seperti waktu yang berjalan tanpa negosiasi. Pikiranku tidak ke mana2. Ia diam, tapi bukan tenang, lebih seperti ruang yang sengaja dibiarkan kosong.

Di usia yang katanya penuh kemungkinan ini, aku justru belajar menahan diri untuk tidak terlalu jauh membayangkan. Ada sesuatu yang kadang ingin kuraih, tidak jelas bentuknya, tidak juga selalu hadir, tapi cukup untuk menyisakan kesadaran bahwa ada bagian dari diriku yang belum lengkap.

Dan anehnya, setiap kali perasaan itu muncul, selalu ada yang lebih dulu menarikku mundur. Sebuah bisikan pelan, hampir tak terdengar, yang membuatku berpikir dua kali bahkan sebelum benar2 melangkah.

Akhirnya, aku kembali pada ritme yang monoton. Pergi sendiri, pulang sendiri, menjalani hari2 tanpa banyak perubahan. Bukan karena tidak ingin berbeda, mungkin hanya karena belum berani membayangkan seperti apa rasanya jika tidak sendiri.

Di sekelilingku, orang2 tampak berjalan dengan sesuatu di samping mereka, entah itu tangan yang digenggam, atau sekadar kehadiran yang saling mengerti. Aku melihatnya, cukup lama, lalu mengalihkan pandangan perlahan.

Bukan karena tidak ingin, hanya… belum tahu harus menempatkan diri di mana, dalam kemungkinan yang terasa begitu jauh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

belum lengkap

 Pagi itu, langkahku berakhir di Lapangan Kasihan, tempat di mana hari mulai bergerak dalam sunyi yang nyaris reflektif tanpa banyak tanya. ...