Ada malam ketika tubuh tak lagi terasa seperti tempat pulang yang utuh. Napas berat, lelah datang berlebihan, dan kantuk tak lagi menghadirkan istirahat. Mata terpejam, tetapi tubuh seolah dipaksa berlari menembus lorong panjang tanpa ujung. Selama ini, segala nyeri dipelihara dalam sunyi, setelah terlalu banyak kemungkinan dan penjelasan yang saling membatalkan hingga sakit akhirnya menjelma rahasia yang dibawa sendirian.
Hingga malam itu tiba.
Hujan turun deras, mengguyur jalanan dan langit yang tampak muram sejak petang. Dalam tubuh yg mulai kehilangan tenaga, sebuah perjalanan menuju rumah sakit terasa seperti menempuh jarak yang begitu jauh dari kehidupan sebelumnya. Namun semesta rupanya belum benar2 berniat membiarkan semuanya runtuh sendirian.
Ada langkah2 yang memilih tinggal.
Seseorang mengikuti perjalanan malam itu tanpa diminta, seolah memahami bahwa ada ketakutan yang terlalu besar jika harus dihadapi seorang diri. Dua lainnya datang membantu menopang tubuh yang nyaris kehilangan daya. Di tengah hujan dan lampu jalan yang berpendar samar, mereka menjadi tangan2 yang menolak membiarkan seseorang tenggelam dalam keadaan paling rapuhnya.
Dan di ruang rumah sakit yang dingin itu, ketika air mata jatuh tanpa mampu dicegah, sebuah usapan lembut hadir di wajah yang penuh cemas. Sederhana, nyaris tak berarti bagi sebagian orang, tetapi malam itu terasa seperti pengingat bahwa dunia belum sepenuhnya kehilangan kasihnya.
Ada rasa haru yang sulit dijelaskan.
Bukan semata karena pertolongan yang datang, melainkan karena untuk pertama kalinya, luka yang selama ini disembunyikan diam2 dipeluk oleh banyak kepedulian.
Sebagian memilih menetap lebih lama di rumah sakit, menjaga malam agar tidak terasa terlalu sunyi. Sebagian lain datang membawa keperluan2 kecil yang justru terasa paling besar nilainya. Bahkan ada yang membantu menjelaskan keadaan kepada dosen, lalu datang menjenguk bersama orang yang dicintainya. Kebaikan2 itu hadir tanpa suara, tetapi menetap begitu lama di dalam ingatan.
Kemudian penjelasan dokter datang seperti petir yang membelah langit gelap. Selama ini ada hal yang ternyata keliru dipahami. Penyakit itu bukan sesuatu yang menular, melainkan sesuatu yang diam-diam dapat menyebar dan menghancurkan dari dalam apabila terlambat ditangani. Bahkan kemungkinan terburuknya mampu mencapai kepala, merenggut kesadaran, lalu perlahan mengambil hidup dengan cara yang nyaris tak disadari.
Mungkin sejak malam itu, hidup tak lagi dipandang dengan cara yang sama.
Sebab di kota yang awalnya hanya terasa seperti tempat singgah, ternyata Tuhan menitipkan begitu banyak manusia baik. Orang2 yang hadir bukan untuk menghapus sakit, melainkan memastikan bahwa seseorang tidak menghadapi sakitnya sendirian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar