Kamis, 07 Mei 2026

Tubuh yang Hampir Pulang

 Ada malam ketika tubuh tak lagi terasa seperti tempat pulang yang utuh. Napas berat, lelah datang berlebihan, dan kantuk tak lagi menghadirkan istirahat. Mata terpejam, tetapi tubuh seolah dipaksa berlari menembus lorong panjang tanpa ujung. Selama ini, segala nyeri dipelihara dalam sunyi, setelah terlalu banyak kemungkinan dan penjelasan yang saling membatalkan hingga sakit akhirnya menjelma rahasia yang dibawa sendirian.

Hingga malam itu tiba.

Hujan turun deras, mengguyur jalanan dan langit yang tampak muram sejak petang. Dalam tubuh yg mulai kehilangan tenaga, sebuah perjalanan menuju rumah sakit terasa seperti menempuh jarak yang begitu jauh dari kehidupan sebelumnya. Namun semesta rupanya belum benar2 berniat membiarkan semuanya runtuh sendirian.

Ada langkah2 yang memilih tinggal.

Seseorang mengikuti perjalanan malam itu tanpa diminta, seolah memahami bahwa ada ketakutan yang terlalu besar jika harus dihadapi seorang diri. Dua lainnya datang membantu menopang tubuh yang nyaris kehilangan daya. Di tengah hujan dan lampu jalan yang berpendar samar, mereka menjadi tangan2 yang menolak membiarkan seseorang tenggelam dalam keadaan paling rapuhnya.

Dan di ruang rumah sakit yang dingin itu, ketika air mata jatuh tanpa mampu dicegah, sebuah usapan lembut hadir di wajah yang penuh cemas. Sederhana, nyaris tak berarti bagi sebagian orang, tetapi malam itu terasa seperti pengingat bahwa dunia belum sepenuhnya kehilangan kasihnya.

Ada rasa haru yang sulit dijelaskan.
Bukan semata karena pertolongan yang datang, melainkan karena untuk pertama kalinya, luka yang selama ini disembunyikan diam2 dipeluk oleh banyak kepedulian.

Sebagian memilih menetap lebih lama di rumah sakit, menjaga malam agar tidak terasa terlalu sunyi. Sebagian lain datang membawa keperluan2 kecil yang justru terasa paling besar nilainya. Bahkan ada yang membantu menjelaskan keadaan kepada dosen, lalu datang menjenguk bersama orang yang dicintainya. Kebaikan2 itu hadir tanpa suara, tetapi menetap begitu lama di dalam ingatan.

Kemudian penjelasan dokter datang seperti petir yang membelah langit gelap. Selama ini ada hal yang ternyata keliru dipahami. Penyakit itu bukan sesuatu yang menular, melainkan sesuatu yang diam-diam dapat menyebar dan menghancurkan dari dalam apabila terlambat ditangani. Bahkan kemungkinan terburuknya mampu mencapai kepala, merenggut kesadaran, lalu perlahan mengambil hidup dengan cara yang nyaris tak disadari.

Mungkin sejak malam itu, hidup tak lagi dipandang dengan cara yang sama.

Sebab di kota yang awalnya hanya terasa seperti tempat singgah, ternyata Tuhan menitipkan begitu banyak manusia baik. Orang2 yang hadir bukan untuk menghapus sakit, melainkan memastikan bahwa seseorang tidak menghadapi sakitnya sendirian.

Sabtu, 25 April 2026

Jalan

 aku mencintaimu...

bukan karena aku menemukan kesempurnaan dalam dirimu, tetapi karena aku memilih untuk tetap tinggal di antara segala ketidaksempurnaan yg ada. jika harus jujur, aku sendiri tidak sepenuhnya mampu menjelaskan alasannya. perasaan ini datang dengan tenang, tapi menetap dgn dalam.

meskipun waktu kita baru berjalan tiga bulan,,keyakinan itu terasa begitu utuh. aku sudah menyebut namamu dalam percakapan dengan orang tuaku, sesuatu yg tidak pernah aku lakukan dengan sembarangan. ada bagian darimu yg membuatku yakin, dengan cara yg sederhana tapi nyata.

aku memahami kamu sedang berada di fase hidup yg ingin kamu jalani sepenuhnya. kamu ingin bebas, ingin merasakan masa mudamu tanpa batas. aku tidak ingin menghalangi itu. aku hanya ingin kamu tahu, di antara semua hal yg kamu jalani, ada aku yg tetap memilihmu dengan cara yg tenang.

aku ingin berjalan bersamamu. aku bisa menjadi pacarmu, hadir di sisimu, mendengarkan ceritamu, menenangkan lelahmu, bahkan merindukanmu dengan cara yg sederhana tapi tulus. aku ingin jadi rumah yg selalu bisa kamu datangi tanpa rasa ragu.

aku akan memberikan semua yg aku bisa untukmu, perhatian kecil, waktu, doa, bahkan hal2 sederhana yg mungkin tidak kamu sadari tapi selalu aku usahakan untukmu. aku ingin membuatmu merasa cukup, tanpa harus mencari ke mana2.

hanya saja, ada satu hal dalam diriku yg aku jaga dengan sepenuh hati. bukan karena aku menjauh darimu, tetapi karena aku ingin sesuatu yg kita miliki tetap berharga, tetap punya makna, dan sampai pada waktu yg benar2 tepat.

aku tidak akan memaksamu berubah. aku tahu kamu punya jalanmu sendiri. tapi aku percaya, laki2 yg tepat pada akhirnya akan tahu di mana ia ingin berhenti, dan kepada siapa ia ingin pulang.

kalau suatu saat kamu lelah dengan semua yg kamu jalani, aku ingin kamu ingat, ada aku yg selalu membuka ruang untukmu, tanpa menghakimi, tanpa menuntut berlebihan.

aku tidak akan mengejarmu, tapi aku juga tidak akan menghilang. aku akan tetap di sini, memperbaiki diriku, menyiapkan versi terbaik dari diriku untuk seseorang yg memilihku.

dan kalau nanti kamu memilihku, aku ingin itu karena kamu yakin, bukan karena aku menunggu.

aku akan menunggumu di titik itu, selama takdir belum menuliskan namaku pada orang lain.


Senin, 06 April 2026

belum lengkap

 Pagi itu, langkahku berakhir di Lapangan Kasihan, tempat di mana hari mulai bergerak dalam sunyi yang nyaris reflektif tanpa banyak tanya. Anak2 berlarian, tawa mereka ringan, seolah dunia tidak pernah benar2 kekurangan alasan sederhana untuk bahagia.

Aku duduk di satu sisi, dengan nasi cokot yang perlahan habis tanpa terasa, seperti waktu yang berjalan tanpa negosiasi. Pikiranku tidak ke mana2. Ia diam, tapi bukan tenang, lebih seperti ruang yang sengaja dibiarkan kosong.

Di usia yang katanya penuh kemungkinan ini, aku justru belajar menahan diri untuk tidak terlalu jauh membayangkan. Ada sesuatu yang kadang ingin kuraih, tidak jelas bentuknya, tidak juga selalu hadir, tapi cukup untuk menyisakan kesadaran bahwa ada bagian dari diriku yang belum lengkap.

Dan anehnya, setiap kali perasaan itu muncul, selalu ada yang lebih dulu menarikku mundur. Sebuah bisikan pelan, hampir tak terdengar, yang membuatku berpikir dua kali bahkan sebelum benar2 melangkah.

Akhirnya, aku kembali pada ritme yang monoton. Pergi sendiri, pulang sendiri, menjalani hari2 tanpa banyak perubahan. Bukan karena tidak ingin berbeda, mungkin hanya karena belum berani membayangkan seperti apa rasanya jika tidak sendiri.

Di sekelilingku, orang2 tampak berjalan dengan sesuatu di samping mereka, entah itu tangan yang digenggam, atau sekadar kehadiran yang saling mengerti. Aku melihatnya, cukup lama, lalu mengalihkan pandangan perlahan.

Bukan karena tidak ingin, hanya… belum tahu harus menempatkan diri di mana, dalam kemungkinan yang terasa begitu jauh.

Sabtu, 21 Maret 2026

Sembilan Purnama

 Pada hari ketika gema takbir memenuhi ruang2 yg tak kasatmata, aku bertanya dalam diam pada sesuatu yang tak pernah benar2 memberi kepastian. Masih adakah kemungkinan bagiku untuk bernapas utuh, seperti mereka yg tidak perlu merundingkan setiap tarikan napasnya?

Keletihan ini telah melampaui makna sederhana.....

ia menjadi pengalaman, memperpanjang jarak antara harapan dan apa yg disebut pemulihan. Sembilan purnama bukan lagi sekadar hitungan, melainkan rentang yg terlalu panjang untuk dijalani tanpa mempertanyakan arti bertahan itu sendiri.

Aku kerap mempertanyakan, apakah masa depan benar2 bersifat inklusif, atau hanya menjadi privilege bagi mereka yg tidak harus bernegosiasi dengan keterbatasan dan ketidakpastian setiap hari.

Hari2 berjalan, namun kehilangan signifikansinya.

Di tengah perayaan yg menandai kemenangan, aku justru berada dalam proses lain. berdamai dengan sesuatu yg tak pernah kupilih. Sebuah kesunyian yang tidak mengakhiri, namun perlahan mengikis, dan memaksaku tetap bertahan di dalamnya.

Kamis, 05 Maret 2026

Cerita Ceria

Ada suatu titik dimana aku sempat meyakinkan diriku bahwa waktu akan menyapu semuanya seperti ombak yg perlahan merapikan jejak di pasir. Namun ada hal2 yg rupanya tidak tunduk pada cara kerja waktu. Ia tetap tinggal, diam, dan berdenyut pelan di ruang yang tidak selalu bisa dijelaskan dengan kata. Maka aku memilih cara yang paling mungkin yaitu menyalakan sedikit terang di wajahku sendiri, seolah dunia memang seharusnya disambut dengan tawa.

Peristiwa itu datang terlalu cepat, hampir seperti adegan yg dipercepat dalam sebuah kisah yang belum sempat dipahami. Kadang aku menertawakannya bukan karena ia benar2 lucu, melainkan karena hanya dengan cara itulah semuanya terasa sedikit lebih ringan untuk dipanggul.

Di sepanjang perjalanan yang tidk pernah aku rencanakan ini, ada banyak tangan yang diam2 menahan bahuku agar tidak terlalu condong ke arah gelap. Dan di antara sekian banyak wajah, ada satu kehadiran yg entah bagaimana menjadi penanda kecil bagi keberanian yang hampir padam. Ia mungkin tidak pernah tahu bahwa keberadaannya pernah menjadi alasan mengapa aku memilih tetap berjalan.

Aku tidak pernah benar2 tahu bagaimana ia memaknai hal itu. Mungkin hanya persinggahan yang sebentar, mungkin juga tidak lebih dari kebetulan yang lewat tanpa jejak. Tetapi bagiku, beberapa kebetulan memiliki cara aneh untuk terasa seperti takdir yang singkat namun cukup berarti untuk dikenang.

Aku pun tidak menempatkan diriku sebagai seseorang yang utuh tanpa celah. Hidup 21 tahun mengajarkan bahwa setiap orang membawa bagian rapuhnya masing2. Ada yang tampak, ada pula yang hanya diketahui oleh mereka yang benar2 melihat lebih dekat.

Kini aku sedang berjalan melewati satu bagian dari "cerita" yang tidak pernah aku tulis sebelumnya. Sebuah bab yang berat, tetapi tetap harus dibaca sampai selesai. Anehnya, justru di sana aku menemukan sesuatu yang lebih sunyi namun juga lebih jujur, yaitu keyakinan bahwa langkah yg pelan sekalipun tetaplah langkah.

Dan barangkali, pada akhirnya, keberanian bukanlah tentang tidak merasa takut. Melainkan tentang tetap memilih berjalan, meskipun kita tau jalan itu tidak selalu ramah.

Selasa, 24 Februari 2026

Gelang Waktu

 Aku bermimpi kembali ke sebuah masa yg telah lama tenggelam. masa ketika dunia masih terasa luas dan waktu berjalan pelan seperti sore hari yg enggan pulang.

Di dalam mimpi itu, aku berada di sebuah rumah sakit yang besar sekali, lorong2 memanjang seperti jalan tak berujung. Bau obat dan suara langkah perawat bergaung pelan di dinding2 putihnya. Anehnya, aku tahu ini masa lalu. Segalanya terasa lebih muda, termasuk aku.

Aku dirawat inap di sana. Di lenganku terpasang infus yang menggantung seperti penanda bahwa tubuhku belum sepenuhnya pulih. Esok harinya, di ujung lorong yang sunyi, aku melihat sosok yg sangat kukenal. teman kecilku. Ia berdiri dengan infus yang sama tergantung di tangannya, menatapku dengan wajah tak percaya.


Kamu?” katanya pelan.

“Kamu?” jawabku, nyaris bersamaan.


Kami tertawa kecil, tawa yg lebih mirip rasa takjub. Seolah semesta telah merancang pertemuan itu diam2.

Sejak hari itu, rumah sakit yang semula terasa asing berubah menjadi semacam taman bermain yang aneh. Kami sering berjalan mengelilinginya pelan2, menyeret tiang infus seperti layang2 kecil yg selalu mengikuti langkah kami. Rumah sakit itu begitu besar, dengan tangga2 panjang dan lorong yang bercabang2.

Kami punya kebiasaan ganjil, mengambil rute yang berlawanan. Ia berjalan ke kanan, aku ke kiri. Kami sepakat bertemu di satu titik yang sama di sebuah persimpangan dekat jendela besar tempat cahaya sore yg indah. Setiap kali berhasil tiba di sana bersamaan, rasanya seperti memenangkan permainan rahasia yg hanya kami berdua yang tahu.

Di tengah semua itu, entah bagaimana pikiranku melompat jauh. Aku memandangi gelang kertas yang melingkari pergelangan tanganku,tipis, mudah kusut, seolah bisa hilang kapan saja.


Bagaimana kalau kita buat gelang sendiri?” kataku padanya suatu hari.

“Gelang apa?”

“Gelang yang bisa tahu kita lagi di mana. Seperti penunjuk arah. Kalau kamu di ruang mana, aku bisa lihat. Kalau aku tersesat, kamu bisa temukan aku.”


Ia tersenyum, matanya berbinar seperti dulu saat kami masih kecil dan membayangkan hal2 mustahil.

Di dalam mimpi itu, kami benar2 membuatnya. Sebuah gelang kecil dengan layar mungil yang menyala lembut. Gelang yang bisa diakses lewat ponsel, yang bisa menunjukkan lokasi satu sama lain di dalam bangunan besar itu. Gelang yang tak sekadar mencatat nama pasien, tapi menyimpan jejak pertemuan.

Kami mengganti gelang kertas itu dengan buatan kami sendiri,lebih kokoh, lebih cerdas, seolah menjanjikan bahwa kami tak akan pernah benar2 kehilangan satu sama lain di antara lorong2 putih.

Hari2 berlalu. Tubuh kami perlahan sembuh. Infus dilepas. Langkah kami tak lagi tertatih.

Dan seperti semua hal yang selesai tanpa aba2, suatu pagi gelang itu tak lagi melingkar di pergelangan tangan kami. Tidak ada alasan untuk memakainya lagi. Kami bukan pasien lagi.

Kami berdiri di pintu keluar yang berbeda.

Aku ingin mengatakan sesuatu.....mungkin tentang tetap saling menemukan, tentang jangan sampai hilang. Tapi mimpi mulai memudar seperti tinta yang larut dalam air.

Ketika aku terbangun, tak ada rumah sakit, tak ada lorong panjang, tak ada gelang cerdas yg menyala. Dan temanku, yang di dunia nyata telah lebih dulu meninggal kembali menjadi jarak yang tak terjangkau.

Yang tersisa hanya perasaan aneh, bahwa bahkan dalam mimpi, kami masih berusaha menemukan satu sama lain.



Tamat.

Kamis, 29 Januari 2026

Tentang ikan disana

Di balik kaca, ikan2 itu berenang tanpa tergesa.

Ruang mereka sempit, airnya tidak selalu jernih,
namun tak satu pun menabrak dinding dengan amarah.

Mereka tahu, panik hanya membuat air keruh.

Aku belajar dari sana.... 
masalah adalah batas, bukan musuh.
Sabar bukan berhenti,
melainkan bergerak pelan tanpa kehilangan arah.

Tidak semua luka perlu dilawan hari ini.
Ada yang cukup dijalani,
sampai waktunya air kembali tenang.

Tubuh yang Hampir Pulang

 Ada malam ketika tubuh tak lagi terasa seperti tempat pulang yang utuh. Napas berat, lelah datang berlebihan, dan kantuk tak lagi menghadir...