Selasa, 24 Februari 2026

Gelang Waktu

 Aku bermimpi kembali ke sebuah masa yg telah lama tenggelam. masa ketika dunia masih terasa luas dan waktu berjalan pelan seperti sore hari yg enggan pulang.

Di dalam mimpi itu, aku berada di sebuah rumah sakit yang besar sekali, lorong2 memanjang seperti jalan tak berujung. Bau obat dan suara langkah perawat bergaung pelan di dinding2 putihnya. Anehnya, aku tahu ini masa lalu. Segalanya terasa lebih muda, termasuk aku.

Aku dirawat inap di sana. Di lenganku terpasang infus yang menggantung seperti penanda bahwa tubuhku belum sepenuhnya pulih. Esok harinya, di ujung lorong yang sunyi, aku melihat sosok yg sangat kukenal. teman kecilku. Ia berdiri dengan infus yang sama tergantung di tangannya, menatapku dengan wajah tak percaya.


Kamu?” katanya pelan.

“Kamu?” jawabku, nyaris bersamaan.


Kami tertawa kecil, tawa yg lebih mirip rasa takjub. Seolah semesta telah merancang pertemuan itu diam2.

Sejak hari itu, rumah sakit yang semula terasa asing berubah menjadi semacam taman bermain yang aneh. Kami sering berjalan mengelilinginya pelan2, menyeret tiang infus seperti layang2 kecil yg selalu mengikuti langkah kami. Rumah sakit itu begitu besar, dengan tangga2 panjang dan lorong yang bercabang2.

Kami punya kebiasaan ganjil, mengambil rute yang berlawanan. Ia berjalan ke kanan, aku ke kiri. Kami sepakat bertemu di satu titik yang sama di sebuah persimpangan dekat jendela besar tempat cahaya sore yg indah. Setiap kali berhasil tiba di sana bersamaan, rasanya seperti memenangkan permainan rahasia yg hanya kami berdua yang tahu.

Di tengah semua itu, entah bagaimana pikiranku melompat jauh. Aku memandangi gelang kertas yang melingkari pergelangan tanganku,tipis, mudah kusut, seolah bisa hilang kapan saja.


Bagaimana kalau kita buat gelang sendiri?” kataku padanya suatu hari.

“Gelang apa?”

“Gelang yang bisa tahu kita lagi di mana. Seperti penunjuk arah. Kalau kamu di ruang mana, aku bisa lihat. Kalau aku tersesat, kamu bisa temukan aku.”


Ia tersenyum, matanya berbinar seperti dulu saat kami masih kecil dan membayangkan hal2 mustahil.

Di dalam mimpi itu, kami benar2 membuatnya. Sebuah gelang kecil dengan layar mungil yang menyala lembut. Gelang yang bisa diakses lewat ponsel, yang bisa menunjukkan lokasi satu sama lain di dalam bangunan besar itu. Gelang yang tak sekadar mencatat nama pasien, tapi menyimpan jejak pertemuan.

Kami mengganti gelang kertas itu dengan buatan kami sendiri,lebih kokoh, lebih cerdas, seolah menjanjikan bahwa kami tak akan pernah benar2 kehilangan satu sama lain di antara lorong2 putih.

Hari2 berlalu. Tubuh kami perlahan sembuh. Infus dilepas. Langkah kami tak lagi tertatih.

Dan seperti semua hal yang selesai tanpa aba2, suatu pagi gelang itu tak lagi melingkar di pergelangan tangan kami. Tidak ada alasan untuk memakainya lagi. Kami bukan pasien lagi.

Kami berdiri di pintu keluar yang berbeda.

Aku ingin mengatakan sesuatu.....mungkin tentang tetap saling menemukan, tentang jangan sampai hilang. Tapi mimpi mulai memudar seperti tinta yang larut dalam air.

Ketika aku terbangun, tak ada rumah sakit, tak ada lorong panjang, tak ada gelang cerdas yg menyala. Dan temanku, yang di dunia nyata telah lebih dulu meninggal kembali menjadi jarak yang tak terjangkau.

Yang tersisa hanya perasaan aneh, bahwa bahkan dalam mimpi, kami masih berusaha menemukan satu sama lain.



Tamat.

Kamis, 29 Januari 2026

Tentang ikan disana

Di balik kaca, ikan2 itu berenang tanpa tergesa.

Ruang mereka sempit, airnya tidak selalu jernih,
namun tak satu pun menabrak dinding dengan amarah.

Mereka tahu, panik hanya membuat air keruh.

Aku belajar dari sana.... 
masalah adalah batas, bukan musuh.
Sabar bukan berhenti,
melainkan bergerak pelan tanpa kehilangan arah.

Tidak semua luka perlu dilawan hari ini.
Ada yang cukup dijalani,
sampai waktunya air kembali tenang.

Kamis, 22 Januari 2026

Selasa, 23 Desember 2025

Redam


    Emosi sering kali memilih bersembunyi. Ia hadir dan mungkin disampaikan, namun kerap berhenti di batas kehati hatian. takut jika kejujuran justru melukai sekitar. Dari sana, mengalah pelan2 menjadi kebiasaan, hingga keberadaan terasa kian ringan , mudah terlewat, seakan perannya hanya untuk memahami dan menenangkan, bukan untuk benar2 diperhitungkan.

    Di ruang yang sunyi, kalimat2 itu datang sendiri  "sesekali marahlah, jangan selalu diam, jangan membiarkan air mata dan goresan menjadi satu2nya bahasa" . Tak banyak yang tumbuh jika perhatian terus diarahkan keluar, sementara bagian paling rapuh dibiarkan luruh tanpa suara. Namun semua itu masih menetap sebagai getar halus, berputar di kepala, belum turun menjadi gerak, belum cukup berani menjelma sebagai sikap.

Jumat, 28 November 2025

Terimakasih Malioboro

Pernah, pada suatu fase eksistensial yg kabur batasnya, engkau menjelma semacam ruang persinggahan di antara runtuh dan bangkit, di mana kesadaran manusia seringkali terombang ambing tanpa struktur yang pasti. Pada masa ketika orientasi batin mengalami dislokasi, engkau menjadi semacam titik koordinat yang tetap, menghadirkan jeda dari hiruk pikuk yang sulit dipetakan.

Hampir setiap senja yang mengendap menjadi malam, ketika duka merembes tanpa aba2, langkah2 yang rapuh itu kembali ke pangkuanmu. Seakan setiap lampu yang berkelip di sepanjang tubuhmu merupakan metafora kecil tentang resiliensi,harapan yang tetap menyala kendati angin yg berulang kali mencoba meniadakannya.

Engkau menyimpan arsip2 tangis yang jatuh tanpa suara, bahkan ketika individu itu berdiri sendirian di tengah arus manusia yang sliweran,, wajah2 asing yang berlalu lalang bagai variabel2 acak dalam model kehidupan yang tak pernah tuntas dihitung. Di antara lalu lalang itulah, kesunyian justru menemukan definisinya yang paling telanjang.

Ada malam2 ketika langkah yang mengitari tubuhmu bukan sekadar ritual melintas, melainkan upaya rekonsiliasi dengan fragmen2 diri yang tercerai berai oleh tekanan sehari2. Pada titik itu, engkau bukan lagi sekadar jalan, engkau menjadi narasi, dan seseorang menjadi pembacanya.

Kini, sosok yang dulu datang dengan kesedihan yang menumpuk telah bertransformasi, tidak lagi tenggelam dalam pusaran emosional yang sama. Luka2 yang dulu berserakan telah memperoleh tata letak baru, tidak sembuh, namun memahami hakikat keberadaannya.

Dan meskipun kunjungan ke tubuhmu tak sesering dulu, keistimewaanmu tetap bertahan sebagai memori,,sebuah jejak pengalaman yang enggan menguap, seakan engkau adalah paragraf yang sekali dibaca tidak pernah benar2 selesai dipahami.

Senin, 25 Agustus 2025

titik

Ada kalanya tubuh berbicara

dengan bahasa yang tak dimengerti akal,

isyarat samar,

seperti tinta merah yang menetes di antara napas.


Aku belajar,

bahwa manusia bukan hanya pikiran dan cita,

tetapi juga rapuhnya raga yang bekerja diam2,

yang menuntut perhatian

sekalipun jiwa ingin terus berlari.

Sabtu, 12 Juli 2025

Sumpel Kain dan Waktu yang Berjalan

Di ruang sederhana, sepasang sepatu beristirahat sejenak di atas lantai dingin. Warnanya telah memudar, bagian solnya mulai terkikis, dan goresa2 kecil kini menjadi lukisan waktu di permukaannya. Ia bukan sepatu biasa. Ia adalah penanda waktu, penjelajah jarak, dan saksi dari perjalanan seorang manusia yg perlahan tumbuh,bukan hanya dalam ukuran kaki, tapi juga dalam keteguhan hati.

Sembilan tahun lalu, sepatu itu dibeli dengan sisa2 uang jajan. Tak ada pesta kecil menyambutnya, hanya tekad yang besar dari seseorang yg memilih menahan lapar demi sepasang langkah yang lebih layak. Waktu itu, ukurannya terlalu besar. Bagian tumit harus disumpal kain agar tak terlepas di tengah jalan. Dan saat digunakan untuk lomba, tawa datang bukan dari kemenangan, tapi dari ukuran sepatu yang dianggap terlalu besar,aneh, terlalu asing.

Hanya harapan sederhana "semoga sepatu ini kuat bertahan, hingga kaki ini layak mengisinya". Dan sepatu itu pun bertahan. Dalam langkah yang goyah, dalam hari2 yang tak selalu menang, ia tetap menemani. Ia menjadi teman bagi kegagalan,bukan untuk mengingat luka, tapi untuk mengajarkan makna pulang, sabar, dan mulai lagi.

Waktu berjalan. Tahun berganti. Yang dulu disumpal kini pas, yang dulu dicemooh kini tak lagi peduli. Kini, sepatu itu telah lecet di banyak sisi. Bagian depannya mengelupas, solnya mulai retak, dan warnanya kehilangan kilau. Tapi tak sedikit pun niat untuk menggantinya muncul. Karena bukan keindahannya yang membuat ia dikenakan, tapi makna yang dibawanya.

Sepatu itu tidak pernah dijanjikan untuk menjadi indah. Ia hanya diminta bertahan. Dan ia menepatinya.

Kini, ia masih setia dikenakan,bukan karena tak ada pilihan lain, tapi karena ada rasa syukur yang tumbuh setiap kali tali sepatunya dikencangkan. Syukur atas perjalanan yang pernah sulit, namun tidak pernah sia2. Syukur atas kegagalan yang membentuk keberanian. Syukur atas benda sederhana, yang tak pernah mengeluh, tak pernah meminta, hanya menemani dengan setia.

Dan mungkin ketika suatu hari seseorang bertanya,
“Kenapa tak mengganti sepatu itu?”
Jawaban yang tak perlu dijelaskan panjang adalah:
“Karena yang telah berjalan bersamamu dalam luka, layak menemani langkah menuju sembuh.”

Gelang Waktu

  Aku bermimpi kembali ke sebuah masa yg telah lama tenggelam. masa ketika dunia masih terasa luas dan waktu berjalan pelan seperti sore har...