Di ruang sederhana, sepasang sepatu beristirahat sejenak di atas lantai dingin. Warnanya telah memudar, bagian solnya mulai terkikis, dan goresa2 kecil kini menjadi lukisan waktu di permukaannya. Ia bukan sepatu biasa. Ia adalah penanda waktu, penjelajah jarak, dan saksi dari perjalanan seorang manusia yg perlahan tumbuh,bukan hanya dalam ukuran kaki, tapi juga dalam keteguhan hati.
Sembilan tahun lalu, sepatu itu dibeli dengan sisa2 uang jajan. Tak ada pesta kecil menyambutnya, hanya tekad yang besar dari seseorang yg memilih menahan lapar demi sepasang langkah yang lebih layak. Waktu itu, ukurannya terlalu besar. Bagian tumit harus disumpal kain agar tak terlepas di tengah jalan. Dan saat digunakan untuk lomba, tawa datang bukan dari kemenangan, tapi dari ukuran sepatu yang dianggap terlalu besar,aneh, terlalu asing.
Hanya harapan sederhana "semoga sepatu ini kuat bertahan, hingga kaki ini layak mengisinya". Dan sepatu itu pun bertahan. Dalam langkah yang goyah, dalam hari2 yang tak selalu menang, ia tetap menemani. Ia menjadi teman bagi kegagalan,bukan untuk mengingat luka, tapi untuk mengajarkan makna pulang, sabar, dan mulai lagi.
Waktu berjalan. Tahun berganti. Yang dulu disumpal kini pas, yang dulu dicemooh kini tak lagi peduli. Kini, sepatu itu telah lecet di banyak sisi. Bagian depannya mengelupas, solnya mulai retak, dan warnanya kehilangan kilau. Tapi tak sedikit pun niat untuk menggantinya muncul. Karena bukan keindahannya yang membuat ia dikenakan, tapi makna yang dibawanya.
Sepatu itu tidak pernah dijanjikan untuk menjadi indah. Ia hanya diminta bertahan. Dan ia menepatinya.
Kini, ia masih setia dikenakan,bukan karena tak ada pilihan lain, tapi karena ada rasa syukur yang tumbuh setiap kali tali sepatunya dikencangkan. Syukur atas perjalanan yang pernah sulit, namun tidak pernah sia2. Syukur atas kegagalan yang membentuk keberanian. Syukur atas benda sederhana, yang tak pernah mengeluh, tak pernah meminta, hanya menemani dengan setia.
Dan mungkin ketika suatu hari seseorang bertanya,
“Kenapa tak mengganti sepatu itu?”
Jawaban yang tak perlu dijelaskan panjang adalah:
“Karena yang telah berjalan bersamamu dalam luka, layak menemani langkah menuju sembuh.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar