Senin, 17 Maret 2025

Lukisan jelek



Dalam setiap goresan tinta, dalam setiap kekacauan garis yang saling bertumpukan, terdapat sebuah cerita yang lebih dalam dari sekedar sapuan warna atau bentuk abstrak. Lukisan ini tidak meminta untuk dipahami dengan cara yang biasa. ia tidak menawarkan keseimbangan komposisi yang nyaman bagi mata, tidak pula menghadirkan harmoni visual yang menenangkan. Sebaliknya, ia menuntut perenungan, memaksa siapa pun yang menatapnya untuk bertanya Apakah penderita bisa memiliki bentuk? Apakah rasa sakit bisa dirasakan dalam wujud yang lebih nyata?

Di tengah badai guratan tinta yang berkelindan, tampak sosok perempuan yang nyaris tenggelam dalam pusaran kegelisahan. Garis2 hitam yang menjalar bagai akar, menandakan keberadaan yang terperangkap sebuah kehidupan yang tidak pernah benar2 bebas dari belenggu masa lalu, tanggung jawab, dan kelelahan yang terakumulasi dari ribuan kegagalan. 

Lalu, ada warna merah. Bukan merah yang membara dengan optimisme, melainkan merah yang menyayat, merah yang merembes dari luka yang tidak kunjung sembuh. Ini bukan sekedar warna, tapi sebuah kegelapan sunyi dari dada yang sesak, dari paru-paru yang melemah, dari tubuh yang perlahan dikhianati oleh penyakit yang menggerogoti dari dalam. Sang perempuan memegangi dadanya dengan genggaman yang tidak sekedar menunjukkan rasa sakit, tetapi juga keputusasaan, ketidakberdayaan menghadapi sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan.

Namun, dalam ekspresi yang muram, dalam tubuhnya yang hampir larut dalam kekacauan garis, ada satu hal yang tetap bertahan"ia tidak jatuh sepenuhnya". Barangkali, inilah yang disebut sebagai "ruang ikhlas"bukan ruang yang tenang, bukan ruang yang bebas dari penderitaan, tetapi ruang tempat seseorang tetap bertahan meskipun telah berulang kali oleh kenyataan.

Dalam banyak hal, lukisan ini lebih dari sekedar representasi visual. Ia adalah monumen bagi mereka yang pernah merasa terperangkap dalam tubuhnya sendiri, bagi mereka yang memahami bagaimana sakit fisik dan beban emosional bisa saling bersinggungan hingga sulit dibedakan. Ia adalah kisah tentang perempuan yang tidak hanya berjuang melawan penyakit, tetapi juga berjuang untuk tetap hidup di tengah ekspektasi, tanggung jawab, dan mimpi2 yang terasa semakin jauh.

Maka, jika kita bertanya apakah ini sebuah karya yang indah, jawabannya bergantung pada bagaimana kita mendefinisikan keindahan. Jika keindahan adalah sesuatu yang rapi, tenang, dan menyenangkan, maka mungkin lukisan ini adalah kekacauan yang tidak memenuhi standar itu. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tentang ikan disana

Di balik kaca, ikan2 itu berenang tanpa tergesa. Ruang mereka sempit, airnya tidak selalu jernih, namun tak satu pun menabrak dinding deng...