Bagi sebagian orang, mendaki gunung hanyalah satu di antara sekian banyak perjalanan. Namun, bagi seseorang yang cukup lama hidup dalam negosiasi dengan tubuhnya sendiri, ia pernah menjadi kemungkinan yang nyaris tidak memiliki tempat di masa depan.
Pernah terucap, "mendaki gunung adalah wishlist sebelum meninggal". Bukan karena pesimisme, melainkan karena ada fase ketika menerima keterbatasan terasa lebih masuk akal daripada memelihara impian. Tubuh, pada masa itu, seolah memiliki otoritas untuk menentukan sejauh mana harapan boleh bertahan.
Maka, ketika kaki akhirnya benar2 menapaki lereng, yang hadir bukan perasaan berhasil mencapai puncak, melainkan kesadaran bahwa tidak semua harapan ditakdirkan gugur. Sebagiannya hanya menunggu waktu yg tepat untuk berwujud.
Dan barangkali, setiap anugraha memang selalu menemukan perantaranya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar