Kalau aku tidak tersesat di Solo malam itu,, mungkin aku tidak akan pernah menemukan sosok kakak perempuan yang selama ini hanya hadir sebagai harapan.
Saat mencari penginapan di sekitar UNS, aku berkeliling sendirian dari satu kos ke kos lain tanpa hasil. Baterai ponsel hampir habis, dan untuk sesaat aku hanya bisa duduk di sebuah coffee shop menangis sambil mengisi daya dan menenangkan diri. Sebagai orang yg berada sendirian di kota asing pada tengah malam, itu menjadi salah satu pengalaman survive mode yang cukup berkesan dalam hidupku.
Di tengah kebingungan itu, aku bertemu Mbak Nia, seorang mahasiswi S2 bidang seni, yg entah mengapa mempercayaiku begitu saja. Ia mengajakku ke kosnya dan membantuku melewati malam yang panjang itu. Mungkin karena sama2 menyukai seni, percakapan kami mengalir begitu saja. Selama beberapa hari, aku merasakan perhatian yang sederhana, sesuatu yang membuatku memahami bagaimana rasanya memiliki seorang kakak perempuan.
Yang paling kuingat bukan hanya kebaikannya, melainkan cara ia hadir sebagai sosok yg mengayomi. Ia memanggilku "adek", mendengarkan ceritaku, dan sering memberikan sudut pandang yg lebih tenang ketika aku menghadapi persoalan.
Bertahun2 telah berlalu. Kini Mbak Nia telah menjadi seorang dosen, tetapi hubungan kami tetap terjaga. Sampai hari ini, ia masih menjadi salah satu orang yg kerap memberiku arahan ketika aku membutuhkannya.
Dari peristiwa itu aku belajar bahwa tidak semua pertemuan penting lahir dari rencana. Kadang, hidup mempertemukan kita dengan orang2 baik justru ketika kita sedang kehilangan arah.