Sabtu, 11 Juli 2026

PORSI

Tidak semua yang perlahan menghilang diawali oleh perpisahan.

Sebagian justru lahir dari kebiasaan2 kecil, ketika kehadiran selalu diasumsikan akan mengerti, sementara antusiasme lebih dahulu berlabuh ke tempat lain. Yang memudar bukan rasa memiliki, melainkan keyakinan bahwa keberadaan masih benar-benar diperhitungkan.

Barangkali, yang paling menguras bukanlah penantian,melainkan upaya yg tak pernah selesai untuk menenangkan hati, meyakinkannya bahwa setiap orang memiliki porsinya sendiri, meski berkali2 mendapati diri berada setelah banyak hal.

Bukan soal menjadi yang paling utama.

Hidup memang tidak pernah meminta seseorang memusatkan semestanya pada satu nama.

Namun ada batas yang nyaris tak kasatmata antara dipahami dan dibiasakan untuk selalu memahami. Yang satu menumbuhkan rasa aman, sedangkan yang lain perlahan menjadikan pengertian sebagai kewajiban yang tak pernah diminta.

Barangkali, itulah ironi yang paling sunyi.

Sebab perhatian tidak diukur dari seberapa fasih kata sayang diucapkan, melainkan dari arah langkah pertama ketika waktu harus dibagi, ketika pilihan2 kecil diam2 menentukan arti sebuah keberadaan.

Pada akhirnya, yang paling sunyi bukanlah jarak,melainkan ketika sebuah hubungan tetap memiliki nama, tetapi perlahan kehilangan makna yang membuatnya layak disebut rumah.

Dan yang paling menyakitkan bukan ketika seseorang memilih pergi.

Melainkan ketika ia tetap tinggal, tetap mencintai, tetap mendoakan... namun diam2 mulai terbiasa hidup tanpa berharap banyak.

Sebab cinta tidak selalu meminta untuk didahulukan. Hanya jangan dibiasakan menjadi yang selalu belakangan. Sebab yang terus diminta mengerti, suatu hari bisa saja tetap memilih bertahan namun tak lagi merasakan hangatnya menjadi bagian yang benar2 dipertimbangkan.


PORSI

Tidak semua yang perlahan menghilang diawali oleh perpisahan. Sebagian justru lahir dari kebiasaan2 kecil, ketika kehadiran selalu diasumsik...