Sabtu, 21 Maret 2026

Sembilan Purnama

 Pada hari ketika gema takbir memenuhi ruang2 yg tak kasatmata, aku bertanya dalam diam pada sesuatu yang tak pernah benar2 memberi kepastian. Masih adakah kemungkinan bagiku untuk bernapas utuh, seperti mereka yg tidak perlu merundingkan setiap tarikan napasnya?

Keletihan ini telah melampaui makna sederhana.....

ia menjadi pengalaman, memperpanjang jarak antara harapan dan apa yg disebut pemulihan. Sembilan purnama bukan lagi sekadar hitungan, melainkan rentang yg terlalu panjang untuk dijalani tanpa mempertanyakan arti bertahan itu sendiri.

Aku kerap mempertanyakan, apakah masa depan benar2 bersifat inklusif, atau hanya menjadi privilege bagi mereka yg tidak harus bernegosiasi dengan keterbatasan dan ketidakpastian setiap hari.

Hari2 berjalan, namun kehilangan signifikansinya.

Di tengah perayaan yg menandai kemenangan, aku justru berada dalam proses lain. berdamai dengan sesuatu yg tak pernah kupilih. Sebuah kesunyian yang tidak mengakhiri, namun perlahan mengikis, dan memaksaku tetap bertahan di dalamnya.

Kamis, 05 Maret 2026

Cerita Ceria

Ada suatu titik dimana aku sempat meyakinkan diriku bahwa waktu akan menyapu semuanya seperti ombak yg perlahan merapikan jejak di pasir. Namun ada hal2 yg rupanya tidak tunduk pada cara kerja waktu. Ia tetap tinggal, diam, dan berdenyut pelan di ruang yang tidak selalu bisa dijelaskan dengan kata. Maka aku memilih cara yang paling mungkin yaitu menyalakan sedikit terang di wajahku sendiri, seolah dunia memang seharusnya disambut dengan tawa.

Peristiwa itu datang terlalu cepat, hampir seperti adegan yg dipercepat dalam sebuah kisah yang belum sempat dipahami. Kadang aku menertawakannya bukan karena ia benar2 lucu, melainkan karena hanya dengan cara itulah semuanya terasa sedikit lebih ringan untuk dipanggul.

Di sepanjang perjalanan yang tidk pernah aku rencanakan ini, ada banyak tangan yang diam2 menahan bahuku agar tidak terlalu condong ke arah gelap. Dan di antara sekian banyak wajah, ada satu kehadiran yg entah bagaimana menjadi penanda kecil bagi keberanian yang hampir padam. Ia mungkin tidak pernah tahu bahwa keberadaannya pernah menjadi alasan mengapa aku memilih tetap berjalan.

Aku tidak pernah benar2 tahu bagaimana ia memaknai hal itu. Mungkin hanya persinggahan yang sebentar, mungkin juga tidak lebih dari kebetulan yang lewat tanpa jejak. Tetapi bagiku, beberapa kebetulan memiliki cara aneh untuk terasa seperti takdir yang singkat namun cukup berarti untuk dikenang.

Aku pun tidak menempatkan diriku sebagai seseorang yang utuh tanpa celah. Hidup 21 tahun mengajarkan bahwa setiap orang membawa bagian rapuhnya masing2. Ada yang tampak, ada pula yang hanya diketahui oleh mereka yang benar2 melihat lebih dekat.

Kini aku sedang berjalan melewati satu bagian dari "cerita" yang tidak pernah aku tulis sebelumnya. Sebuah bab yang berat, tetapi tetap harus dibaca sampai selesai. Anehnya, justru di sana aku menemukan sesuatu yang lebih sunyi namun juga lebih jujur, yaitu keyakinan bahwa langkah yg pelan sekalipun tetaplah langkah.

Dan barangkali, pada akhirnya, keberanian bukanlah tentang tidak merasa takut. Melainkan tentang tetap memilih berjalan, meskipun kita tau jalan itu tidak selalu ramah.

Kamis, 29 Januari 2026

Tentang ikan disana

Di balik kaca, ikan2 itu berenang tanpa tergesa.

Ruang mereka sempit, airnya tidak selalu jernih,
namun tak satu pun menabrak dinding dengan amarah.

Mereka tahu, panik hanya membuat air keruh.

Aku belajar dari sana.... 
masalah adalah batas, bukan musuh.
Sabar bukan berhenti,
melainkan bergerak pelan tanpa kehilangan arah.

Tidak semua luka perlu dilawan hari ini.
Ada yang cukup dijalani,
sampai waktunya air kembali tenang.

Selasa, 23 Desember 2025

Redam


    Emosi sering kali memilih bersembunyi. Ia hadir dan mungkin disampaikan, namun kerap berhenti di batas kehati hatian. takut jika kejujuran justru melukai sekitar. Dari sana, mengalah pelan2 menjadi kebiasaan, hingga keberadaan terasa kian ringan , mudah terlewat, seakan perannya hanya untuk memahami dan menenangkan, bukan untuk benar2 diperhitungkan.

    Di ruang yang sunyi, kalimat2 itu datang sendiri  "sesekali marahlah, jangan selalu diam, jangan membiarkan air mata dan goresan menjadi satu2nya bahasa" . Tak banyak yang tumbuh jika perhatian terus diarahkan keluar, sementara bagian paling rapuh dibiarkan luruh tanpa suara. Namun semua itu masih menetap sebagai getar halus, berputar di kepala, belum turun menjadi gerak, belum cukup berani menjelma sebagai sikap.

Jumat, 28 November 2025

Terimakasih Malioboro

Pernah, pada suatu fase eksistensial yg kabur batasnya, engkau menjelma semacam ruang persinggahan di antara runtuh dan bangkit, di mana kesadaran manusia seringkali terombang ambing tanpa struktur yang pasti. Pada masa ketika orientasi batin mengalami dislokasi, engkau menjadi semacam titik koordinat yang tetap, menghadirkan jeda dari hiruk pikuk yang sulit dipetakan.

Hampir setiap senja yang mengendap menjadi malam, ketika duka merembes tanpa aba2, langkah2 yang rapuh itu kembali ke pangkuanmu. Seakan setiap lampu yang berkelip di sepanjang tubuhmu merupakan metafora kecil tentang resiliensi,harapan yang tetap menyala kendati angin yg berulang kali mencoba meniadakannya.

Engkau menyimpan arsip2 tangis yang jatuh tanpa suara, bahkan ketika individu itu berdiri sendirian di tengah arus manusia yang sliweran,, wajah2 asing yang berlalu lalang bagai variabel2 acak dalam model kehidupan yang tak pernah tuntas dihitung. Di antara lalu lalang itulah, kesunyian justru menemukan definisinya yang paling telanjang.

Ada malam2 ketika langkah yang mengitari tubuhmu bukan sekadar ritual melintas, melainkan upaya rekonsiliasi dengan fragmen2 diri yang tercerai berai oleh tekanan sehari2. Pada titik itu, engkau bukan lagi sekadar jalan, engkau menjadi narasi, dan seseorang menjadi pembacanya.

Kini, sosok yang dulu datang dengan kesedihan yang menumpuk telah bertransformasi, tidak lagi tenggelam dalam pusaran emosional yang sama. Luka2 yang dulu berserakan telah memperoleh tata letak baru, tidak sembuh, namun memahami hakikat keberadaannya.

Dan meskipun kunjungan ke tubuhmu tak sesering dulu, keistimewaanmu tetap bertahan sebagai memori,,sebuah jejak pengalaman yang enggan menguap, seakan engkau adalah paragraf yang sekali dibaca tidak pernah benar2 selesai dipahami.

Senin, 25 Agustus 2025

titik

Ada kalanya tubuh berbicara

dengan bahasa yang tak dimengerti akal,

isyarat samar,

seperti tinta merah yang menetes di antara napas.


Aku belajar,

bahwa manusia bukan hanya pikiran dan cita,

tetapi juga rapuhnya raga yang bekerja diam2,

yang menuntut perhatian

sekalipun jiwa ingin terus berlari.

Sabtu, 12 Juli 2025

Sumpel Kain dan Waktu yang Berjalan

Di ruang sederhana, sepasang sepatu beristirahat sejenak di atas lantai dingin. Warnanya telah memudar, bagian solnya mulai terkikis, dan goresa2 kecil kini menjadi lukisan waktu di permukaannya. Ia bukan sepatu biasa. Ia adalah penanda waktu, penjelajah jarak, dan saksi dari perjalanan seorang manusia yg perlahan tumbuh,bukan hanya dalam ukuran kaki, tapi juga dalam keteguhan hati.

Sembilan tahun lalu, sepatu itu dibeli dengan sisa2 uang jajan. Tak ada pesta kecil menyambutnya, hanya tekad yang besar dari seseorang yg memilih menahan lapar demi sepasang langkah yang lebih layak. Waktu itu, ukurannya terlalu besar. Bagian tumit harus disumpal kain agar tak terlepas di tengah jalan. Dan saat digunakan untuk lomba, tawa datang bukan dari kemenangan, tapi dari ukuran sepatu yang dianggap terlalu besar,aneh, terlalu asing.

Hanya harapan sederhana "semoga sepatu ini kuat bertahan, hingga kaki ini layak mengisinya". Dan sepatu itu pun bertahan. Dalam langkah yang goyah, dalam hari2 yang tak selalu menang, ia tetap menemani. Ia menjadi teman bagi kegagalan,bukan untuk mengingat luka, tapi untuk mengajarkan makna pulang, sabar, dan mulai lagi.

Waktu berjalan. Tahun berganti. Yang dulu disumpal kini pas, yang dulu dicemooh kini tak lagi peduli. Kini, sepatu itu telah lecet di banyak sisi. Bagian depannya mengelupas, solnya mulai retak, dan warnanya kehilangan kilau. Tapi tak sedikit pun niat untuk menggantinya muncul. Karena bukan keindahannya yang membuat ia dikenakan, tapi makna yang dibawanya.

Sepatu itu tidak pernah dijanjikan untuk menjadi indah. Ia hanya diminta bertahan. Dan ia menepatinya.

Kini, ia masih setia dikenakan,bukan karena tak ada pilihan lain, tapi karena ada rasa syukur yang tumbuh setiap kali tali sepatunya dikencangkan. Syukur atas perjalanan yang pernah sulit, namun tidak pernah sia2. Syukur atas kegagalan yang membentuk keberanian. Syukur atas benda sederhana, yang tak pernah mengeluh, tak pernah meminta, hanya menemani dengan setia.

Dan mungkin ketika suatu hari seseorang bertanya,
“Kenapa tak mengganti sepatu itu?”
Jawaban yang tak perlu dijelaskan panjang adalah:
“Karena yang telah berjalan bersamamu dalam luka, layak menemani langkah menuju sembuh.”

Self improvement

 Sejak buku2 mulai dibaca dengan kesadaran, bukan sekadar dengan mata, perlahan terjadi rekonstruksi dalam cara memandang diri. Setiap halam...