Dengan ini, kurelakan harapan yang sempat tumbuh terlalu jauh
bukan karena ia tak layak,
melainkan karena ruangnya tak pernah benar2 kau sediakan.
ketika kau memilih mengunci percakapan itu,
aku membaca lebih dari sekadar tindakan
ada sesuatu yang disembunyikan,
dan tanpa perlu penjelasan panjang,
aku mengerti di mana harus menempatkan diri.
hadirmu tak pernah utuh,
datang sesuka waktu, pergi tanpa penutup yang layak
seakan keberadaanku hanya sela,
bukan pusat yang patut dipertahankan.
padahal aku pernah meniatkan kesungguhan,
memberi satu arah pada rasa,
menyandarkan perhatian pada satu nama
namun kini kusadari,
aku hanya bagian dari kemungkinan,
bukan pilihan yang dipastikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar