Ada kalanya tubuh berbicara
dengan bahasa yang tak dimengerti akal,
isyarat samar,
seperti tinta merah yang menetes di antara napas.
Aku belajar,
bahwa manusia bukan hanya pikiran dan cita,
tetapi juga rapuhnya raga yang bekerja diam2,
yang menuntut perhatian
sekalipun jiwa ingin terus berlari.