Aku bermimpi kembali ke sebuah masa yg telah lama tenggelam. masa ketika dunia masih terasa luas dan waktu berjalan pelan seperti sore hari yg enggan pulang.
Di dalam mimpi itu, aku berada di sebuah rumah sakit yang besar sekali, lorong2 memanjang seperti jalan tak berujung. Bau obat dan suara langkah perawat bergaung pelan di dinding2 putihnya. Anehnya, aku tahu ini masa lalu. Segalanya terasa lebih muda, termasuk aku.
Aku dirawat inap di sana. Di lenganku terpasang infus yang menggantung seperti penanda bahwa tubuhku belum sepenuhnya pulih. Esok harinya, di ujung lorong yang sunyi, aku melihat sosok yg sangat kukenal. teman kecilku. Ia berdiri dengan infus yang sama tergantung di tangannya, menatapku dengan wajah tak percaya.
“Kamu?” katanya pelan.
“Kamu?” jawabku, nyaris bersamaan.
Kami tertawa kecil, tawa yg lebih mirip rasa takjub. Seolah semesta telah merancang pertemuan itu diam2.
Sejak hari itu, rumah sakit yang semula terasa asing berubah menjadi semacam taman bermain yang aneh. Kami sering berjalan mengelilinginya pelan2, menyeret tiang infus seperti layang2 kecil yg selalu mengikuti langkah kami. Rumah sakit itu begitu besar, dengan tangga2 panjang dan lorong yang bercabang2.
Kami punya kebiasaan ganjil, mengambil rute yang berlawanan. Ia berjalan ke kanan, aku ke kiri. Kami sepakat bertemu di satu titik yang sama di sebuah persimpangan dekat jendela besar tempat cahaya sore yg indah. Setiap kali berhasil tiba di sana bersamaan, rasanya seperti memenangkan permainan rahasia yg hanya kami berdua yang tahu.
Di tengah semua itu, entah bagaimana pikiranku melompat jauh. Aku memandangi gelang kertas yang melingkari pergelangan tanganku,tipis, mudah kusut, seolah bisa hilang kapan saja.
“Bagaimana kalau kita buat gelang sendiri?” kataku padanya suatu hari.
“Gelang apa?”
“Gelang yang bisa tahu kita lagi di mana. Seperti penunjuk arah. Kalau kamu di ruang mana, aku bisa lihat. Kalau aku tersesat, kamu bisa temukan aku.”
Ia tersenyum, matanya berbinar seperti dulu saat kami masih kecil dan membayangkan hal2 mustahil.
Di dalam mimpi itu, kami benar2 membuatnya. Sebuah gelang kecil dengan layar mungil yang menyala lembut. Gelang yang bisa diakses lewat ponsel, yang bisa menunjukkan lokasi satu sama lain di dalam bangunan besar itu. Gelang yang tak sekadar mencatat nama pasien, tapi menyimpan jejak pertemuan.
Kami mengganti gelang kertas itu dengan buatan kami sendiri,lebih kokoh, lebih cerdas, seolah menjanjikan bahwa kami tak akan pernah benar2 kehilangan satu sama lain di antara lorong2 putih.
Hari2 berlalu. Tubuh kami perlahan sembuh. Infus dilepas. Langkah kami tak lagi tertatih.
Dan seperti semua hal yang selesai tanpa aba2, suatu pagi gelang itu tak lagi melingkar di pergelangan tangan kami. Tidak ada alasan untuk memakainya lagi. Kami bukan pasien lagi.
Kami berdiri di pintu keluar yang berbeda.
Aku ingin mengatakan sesuatu.....mungkin tentang tetap saling menemukan, tentang jangan sampai hilang. Tapi mimpi mulai memudar seperti tinta yang larut dalam air.
Ketika aku terbangun, tak ada rumah sakit, tak ada lorong panjang, tak ada gelang cerdas yg menyala. Dan temanku, yang di dunia nyata telah lebih dulu meninggal kembali menjadi jarak yang tak terjangkau.
Yang tersisa hanya perasaan aneh, bahwa bahkan dalam mimpi, kami masih berusaha menemukan satu sama lain.
Tamat.