Emosi sering kali memilih bersembunyi. Ia hadir dan mungkin disampaikan, namun kerap berhenti di batas kehati hatian. takut jika kejujuran justru melukai sekitar. Dari sana, mengalah pelan2 menjadi kebiasaan, hingga keberadaan terasa kian ringan , mudah terlewat, seakan perannya hanya untuk memahami dan menenangkan, bukan untuk benar2 diperhitungkan.
Di ruang yang sunyi, kalimat2 itu datang sendiri "sesekali marahlah, jangan selalu diam, jangan membiarkan air mata dan goresan menjadi satu2nya bahasa" . Tak banyak yang tumbuh jika perhatian terus diarahkan keluar, sementara bagian paling rapuh dibiarkan luruh tanpa suara. Namun semua itu masih menetap sebagai getar halus, berputar di kepala, belum turun menjadi gerak, belum cukup berani menjelma sebagai sikap.