Jumat, 28 November 2025

Terimakasih Malioboro

Pernah, pada suatu fase eksistensial yg kabur batasnya, engkau menjelma semacam ruang persinggahan di antara runtuh dan bangkit, di mana kesadaran manusia seringkali terombang ambing tanpa struktur yang pasti. Pada masa ketika orientasi batin mengalami dislokasi, engkau menjadi semacam titik koordinat yang tetap, menghadirkan jeda dari hiruk pikuk yang sulit dipetakan.

Hampir setiap senja yang mengendap menjadi malam, ketika duka merembes tanpa aba2, langkah2 yang rapuh itu kembali ke pangkuanmu. Seakan setiap lampu yang berkelip di sepanjang tubuhmu merupakan metafora kecil tentang resiliensi,harapan yang tetap menyala kendati angin yg berulang kali mencoba meniadakannya.

Engkau menyimpan arsip2 tangis yang jatuh tanpa suara, bahkan ketika individu itu berdiri sendirian di tengah arus manusia yang sliweran,, wajah2 asing yang berlalu lalang bagai variabel2 acak dalam model kehidupan yang tak pernah tuntas dihitung. Di antara lalu lalang itulah, kesunyian justru menemukan definisinya yang paling telanjang.

Ada malam2 ketika langkah yang mengitari tubuhmu bukan sekadar ritual melintas, melainkan upaya rekonsiliasi dengan fragmen2 diri yang tercerai berai oleh tekanan sehari2. Pada titik itu, engkau bukan lagi sekadar jalan, engkau menjadi narasi, dan seseorang menjadi pembacanya.

Kini, sosok yang dulu datang dengan kesedihan yang menumpuk telah bertransformasi, tidak lagi tenggelam dalam pusaran emosional yang sama. Luka2 yang dulu berserakan telah memperoleh tata letak baru, tidak sembuh, namun memahami hakikat keberadaannya.

Dan meskipun kunjungan ke tubuhmu tak sesering dulu, keistimewaanmu tetap bertahan sebagai memori,,sebuah jejak pengalaman yang enggan menguap, seakan engkau adalah paragraf yang sekali dibaca tidak pernah benar2 selesai dipahami.

Tentang ikan disana

Di balik kaca, ikan2 itu berenang tanpa tergesa. Ruang mereka sempit, airnya tidak selalu jernih, namun tak satu pun menabrak dinding deng...